Selasa, 08 April 2008

Renungan : Maret 2008 Sebagai Bulan Kebangkitanku...

Seperti yang telah saya ceritakan sebelumnya dalam tulisan blog saya, begitu lulus kuliah dari ITN atau beberapa hari setelah diwisuda, pada tanggal 3 Desember 2007-23 februari 2008 saya mengikuti kursus english di Kota Pare, Kediri. Setelah hampir 3 bulan menjalani kursus english, kami diwajibkan menjalani serangkaian ujian mulai speaking, listening, hingga ujian writting. Pada tanggal 23 februari 2008 (sekitar jam 11 malam) saat dalam perjalanan menuju Candi Borobudur bersama seluruh peserta kursus dalam rangka menjalani ujian speaking dengan mewawancarai para Turis asing disana, di dalam bus tiba-tiba saya merasakan sakit kepala dan demam yang hebat. Hingga pagi hari (24 feb) rasa sakit itu juga tidak hilang, malahan badan saya tambah lemas, kurang fit, dan juga kehilangan nafsu makan (pagi itu hingga balik ke bus siangnya saya memilih tidak makan karena emang nggak nafsu). Saat itu saya masih berpikir bahwa saya hanya menderita demam biasa, karena itu saya mencoba melawan penyakit itu dengan berbagai cara. Akan tetapi upaya itu tidak berhasil karena nyatanya selama di Borobudur saya merasa tambah kepanasan, lemas, dan mengantuk berat. Saya bahkan tidak peduli dengan segala aktivitas, keindahan alam dan budaya disana karena yang ada di pikiran saya saat itu cuma bagaimana cara menemukan tempat terlindung yang nyaman untuk tidur (ternyata saya tidak menemukannya!!!). Jujur saja saat itu saya benar-benar jengkel dengan pihak pengelola Candi yang tampaknya kurang memperhatikan kebutuhan para pengunjung padahal obyek wisata tersebut berskala internasional. Bayangkan di sekitar bangunan Candi saya ternyata tak menemukan toilet barang sebiji pun, malahan lokasi toiletnya ternyata begitu jauh dari bangunan utama candi (Bayangkan apa jadinya jika ada pengunjung manula/lemah fisiknya karena sakit, ketika berada di puncak candi yang begitu tinggi itu tiba-tiba kebelet pipis..!!!, apa ia mesti pipis di atas candi yang sakral itu???).
Kembali ke permasalahan utama saya saat di Borobudur, ketika sakit tersebut saya rasakan mencapai puncaknya di siang hari (saya bahkan nyaris pingsan di atas candi, dan sulit dibayangkan apa yang terjadi mengingat fasilitas pelayanan kesehatan bersifat emergency begitu jauh dari sana). Yang saya lakukan saat itu hanyalah berdoa dan berdoa sambil terus berharap tuhan segera menolong dan memberi kekuatan pada saya. Saya bahkan sudah begitu pasrah dan mengikhlaskan diri jika seandainya saat itu "Tuhan hendak memanggil saya". Teman-teman sebenarnya juga turut prihatin tapi mereka mengira saya hanya demam biasa jadi mereka tetap melanjutkan aktivitas wawancara mereka dengan turis-turis asing dan asyik berfoto ria.
Setelah berjuang keras untuk survive melawan penyakit saya dengan senjata pamungkas saya yaitu doa dan dzikir akhirnya saya masih sempat bertahan lama diatas candi (saya bahkan sempat mengelilingi bangunan utama candi meski bolak-balik berhenti istirahat). Setelah sekitar empat jam di Borobudur saya kemudian mengikuti rombongan kembali ke bus (sebenarnya saya pingin duluan pulang, tapi entah kenapa batin saya selalu menolak). Alhamdulillah meski sedikit payah saya lalu bisa sukses kembali ke bus bersama teman-teman lainnya (Hal ajaibnya adalah meski saya menderita demam yang dahsyat saat itu, saya mampu berjalan kaki lebih dari sejam, mulai dari puncak borobudur hingga ke dalam bus yang parkir di luar kawasan wisata tersebut tanpa istirahat semenitpun di jalan !!! padahal saya saat itu juga kelaparan karena belum makan pagi).
Sesampainya di dalam bus saya langsung minum sepuasnya (alhamdulillah saya benar-benar menemukan kenikmatan yang luar-biasa saat itu). Setelah itu kemudian saya segera tidur hingga bus membawa kami sampai di tempat wisata berikutnya yaitu Malioboro di Yogyakarta. Sesampainya di Malioboro di saat teman-teman pingin mengajak saya bershoping-ria (maksudnya biar saya lupa dengan penyakit saya) saya malah buru-buru mencari Masjid karena saat itu udah jam 2 siang lewat dan saya belum menghadap tuhan dengan mengerjakan kewajiban shalat dhuhur.
Usai shalat dhuhur saya kembali berdoa cukup lama sambil berpikir tentang cobaan yang menimpa saat itu. Saya bertanya-tanya mengapa di saat teman-teman dan semua orang bersenang-senang di tempat-tempat wisata yang kami kunjungi, justru saya malah menderita demam dahsyat dan kehilangan selera untuk menikmati kesenangan duniawi itu. Ketika saya keluar dari tempat shalat, di perjalanan dekat monumen serangan umum 1 maret saya melihat beberapa gelandangan, pengemis, dan anak-anak jalanan yang tampak begitu memelas karena seperti kelaparan (saat itu hati saya terguncang karena tuhan sepertinya sedang menegur saya akan kenyataan bahwa di dunia ini ada banyak orang yang lebih buruk nasibnya daripada saya).
Saat kembali ke bus saya lagi-lagi melanjutkan tidur saya hingga sore (Saya bahkan melewatkan lagi waktu makan siang, sehingga saya seperti orang yang lagi puasa karena tidak makan pagi dan siang, saya cuman minum air dan makan sedikit camilan).
Hingga malam hari saya lebih banyak tiduran di bus, saya hanya keluar bus saat waktu shalat dan makan malam saja. Sampai tengah malam ketika kami sampai kembali di Kota Pare, tiba-tiba saya merasakan semakin bertambah lemas dan bahkan ngangkat tas ransel saja saya tidak kuat hingga saya dibantu Mr Farhan, pengajar favorit di tempat kursus. Beliau tidak hanya membantu ngangkat tas saya, tetapi juga menuntun saya melewati kegelapan malam menuju asrama EECC yang juga satu komplek dengan tempat kursus saya (Thank u very much sir!!!). Saat itu saya memutuskan untuk tinggal di asrama hingga esok pagi.
Kemudian ketika saya kembali ke tempat kos saya dari asrama sekitar jam sembilan pagi (25 feb 2007) saya kembali tidur sampai waktu dhuhur. siangnya saya minum obat demam, tapi sorenya saya malah mual-mual, bahkan malam saya bolak-balik muntah dan perut terasa sangat sakit sekali. Saat itu saya berusaha tetap tenang dan banyak-banyak berdoa, beberapa teman terlihat panik dan menyarankan saya segera ke dokter. Saya menolak dengan halus dengan beralasan saat itu sudah terlalu malam (sekitar jam sepuluh lewat), jadi saya memutuskan besok pagi saja berobatnya. Keesokan harinya sekitar jam stengah 9 pagi teman saya, Yusuf (thanks bro...semoga allah membalas kebaikanmu) lalu mengantar saya menuju rumah sakit (RSUD Pare) karena jaraknya cukup dekat dari kos saya (hanya sekitar 300 meter). Disana saya langsung dilayani dengan baik meski ngantri hampir sejam untuk bertemu dokternya. Setelah diperiksa ternyata menurut dokter saya menderita Demam Berdarah dan harus segera dirawat inap hari itu juga. Kemudian saya setuju untuk segera dirawat inap dan segera membayar beberapa persyaratan administrasi yang dibutuhkan. Saya lalu disuruh keluar ama dokter itu agar menunggu di ruang tunggu hingga berjam-jam sampai saya bosan dan hampir pingsan lagi (wah brengsek juga dokter itu !!!). Akhirnya saya memaksa dokter tersebut agar saya segera mendapat perawatan di ruang rawat inap. Maklum saja saya ngotot seperti itu masalahnya kadar trombosit saya menurut dokter dibawah 50...(satuannya saya lupa) atau tinggal sepertiga dari ukuran normalnya.
Alhamdulillah saya lalu segera dibawa ke ruang rawat inap dan segera diinfus. Tapi sehari disana saya mulai tidak betah karena merasa privasi saya terganggu oleh beberapa pasien yang suka mengaduh kesakitan. Akhirnya saya minta pindah kamar ke Kelas I yang lebih tenang dan nyaman menurut saya. Seminggu di rumah-sakit hampir menguras tabungan saya karena saya harus ngeluarin jutaan rupiah untuk biaya perawatan tersebut. Tapi itu tak masalah bagi saya karena dalam pikiran saya yang penting saya segera sembuh dan kembali beraktivitas secara normal. Selama di rumah-sakit saya juga selalu menyempatkan diri banyak-banyak berdoa dan berdzikir sambil meminta dukungan ortu, keluarga, dan teman-teman. Teman-teman saya di Pare tak henti-hentinya datang menjenguk dan mendoakan saya, termasuk beberapa polisi kenalan saya di Pare.
Sekitar seminggu kemudian yaitu tanggal 2 maret saya minta pulang dan dirawat di rumah karena jujur saja saya sudah tidak betah lagi berlama-lama tinggal di rumah sakit. akhirnya saya diijinkan pulang ke rumah tanggal 3 maret 2008 meski sebenarnya saya belum sembuh benar karena kadar trombosit saya masih rendah. Sesampainya di rumah saya kembali melanjutkan hobi saya di rumah-sakit yaitu tidur hingga waktu shalat tiba. Anehnya malam hari saya mulai pusing, kemampuan penglihatan saya juga mulai kacau karena saya melihat benda-benda yang ada di sekitar saya tampak lebih kecil dari seharusnya. Malam itu pikiran saya benar-benar kacau dan sulit berkonsentrasi dengan peristiwa yang saya alami. Bahkan hingga jam stengah 12 malam saya belum juga bisa tidur dengan tenang. Saya tidak henti-henti merasa gelisah dan merasa kepala saya bertambah sakit dan cenut-cenut. Selama masa kritis tersebut saya mencoba bersikap tenang, sabar dan menata hati saya agar tetap ikhlas dengan cobaan yang saya alami sambil tak henti-henti berdoa kepada tuhan agar saya diberi kesembuhan, kekuatan, dan pertolongan agar bisa segera keluar dari kondisi kritis yang saya alami ini. akhirnya jam 12 lewat saya berhasil tidur dengan nyenyak.
Malam itu ketika menikmati tidur saya yang nyenyak tiba-tiba saya bermimpi yang sangat indah sekali (seingat saya seumur hidup belum pernah saya merasakan mimpi yang seindah ini). Mimpi itu benar-benar membangkitkan spirit saya untuk bangkit dari kondisi kritis yang saya alami dan memberikan banyak inspirasi bagi saya untuk berkarya mengabdi pada tuhan dan seluruh umat selama hidup di bumi ini.

Penyakit Demam berdarah tersebut masih saya derita kira-kira seminggu setelah keluar dari rumah sakit. Ada banyak inspirasi dan gagasan-gagasan nyeleneh dan ngawur yang saya peroleh semasa sakit tersebut. Selama proses penyembuhan itu berat badan saya turun sekitar 6 Kg (suatu jumlah yang besar bagi orang sekurus saya) tapi anehnya kekuatan fisik saya tambah besar (mungkin pengaruh obat dari rumah sakit), setidaknya itu sudah pernah saya uji saat teman-teman pengajian saya di Malang berlatih sepakbola dengan tentara dari Yon Armed Singosari, saya mampu berlari keliling lapangan Armed 5 putaran non-stop (sebenarnya saya masih bisa nambah lagi) dengan jarak tempuh 2 km (padahal saya dikenal paling jarang olahraga dan rekor saya untuk lari non-stop seperti itu tak lebih dari 700 m).


Sabtu, 29 Maret 2008

Menjual Tanpa Membangun : Penerapannya Dalam Konteks Wisata di Wilayah Malang

Sektor pariwisata merupakan salah satu sektor yang potensial sebagai sumber penghasil devisa bagi Indonesia. Kegiatan pariwisata meskipun saat ini masih menempati urutan ketiga dalam memasukkan pendapatan dan devisa negara (sesudah migas dan tekstil), tetap terus diupayakan peningkatannya dan diharapkan menjadi primadona dalam memasok pendapatan dan devisa negara (Tjuk K Sukiadi, Prospek Dan Analisis Pertumbuhan Kepariwisataan Jatim). Dalam lingkup pembangunan nasional sektor ini memiliki kontribusi berarti dalam Pendapatan Domestik Regional Bruto ( PDRB ) karena menurut data terbaru 2007 dari Depbudpar (http://www.budpar.go.id/page.php?ic=521&id=1154) jumlah devisa yang diraup dari turis asing saja menjcapai USD 5,346 milyar, padahal kontribusi wisatawan domestik lebih besar dari itu. Jadi bisa anda bayangkan betapa besarnya kontribusi sektor pariwisata ini.
Dalam konteks pembangunan daerah, sektor pariwisata memberikan pengaruh yang sangat besar bagi peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Pendapatan Asli Daerah didapat dari aspek riil dan non riil. Dari aspek riil seperti pajak-pajak retribusi dan lain sebagainya. Sedangkan dari sisi non riil, Pendapatan Asli Daerah diperoleh dari peningkatan perekonomian masyarakat yang berdampak kepada bertambahnya penerimaan pajak. Sektor pariwisata yang kegiatannya bersifat konsumtif ini memberikan efek secara langsung terhadap perekonomian masyarakat. Jadi secara tidak langsung sektor pariwisata memberikan kontribusi besar bagi Pendapatan Asli Daerah disisi non riil.
Sehubungan dengan hal itu, wilayah Malang sebagai daerah pariwisata terbesar di Jawa Timur yang telah dikenal dengan keindahan alam dan keunikan budaya tradisionalnya sangat potensial untuk terus dikembangkan sebagai motor penggerak perekonomian lokal dan sekaligus mampu memberdayakan masyarakat setempat agar selalu turut andil dalam pembangunan kepariwisataan. Dalam rangka mengoptimalkan potensi wisata alam dan budaya tersebut maka penting untuk membatasi kegiatan-kegiatan wisata pada aspek yang humanis dan lebih ramah lingkungan untuk menjaga potensi-potensi tersebut tetap sustainable misalnya dengan penggunaan model ekowisata dan wisata lain sejenisnya.
Sektor pariwisata dikenal membutuhkan investasi yang cukup besar dalam pengembangannya. Misalnya saja dalam pengembangan pariwisata disuatu tempat membutuhkan banyak pembangunan fisik seperti hotel, restoran, dan fasilitas lainnya. Namun ternyata hal tersebut menimbulkan dampak yang kompleks terhadap kondisi lingkungan, kerumitan manajemen pengelolaan, dan beberapa konflik sosial, misalnya dalam hal pembebasan tanah warga lokal. Beberapa objek wisata terkesan tidak siap dengan banyaknya pembangunan fisik terutama dalam hal perawatannya (maintenance) sehingga objek-objek tersebut terkesan ditelantarkan. Kita lihat saja saat ini banyak objek wisata yang kondisi lingkungannya begitu buruk sehingga tak layak disebut sebagai objek wisata. Sebut saja salah satunya Taman Wisata Wendit di Pakis Malang, objek wisata ini meski berskala regional dan selalu dipadati pengunjung, tapi tetap saja objek wisata ini tampak kurang terawat, kotor, dan tidak teratur.
Sebagai solusi untuk mengurangi dampak-dampak tersebut, maka perlu adanya model baru dalam pengembangan wisata yaitu dengan cara mengembangkan potensi wisata tanpa membangun (Zero Investation). Tapi model ini tentu saja dibatasi pada objek-objek wisata yang alami. Penekanan objek ini juga tak semata-mata menjual keindahan fisik saja, tetapi juga menjual pengalaman psikologis dengan menjalani berbagai aktivitas dengan tema tertentu sesuai kondisi lingkungannya. Hal ini diaplikasikan dengan mengeksplorasi potensi-potensi wisata yang dikemas dalam suatu program paket wisata perjalanan yang layak jual. Konsep wisata ini memang masih jarang yang menerapkan, tetapi beberapa Mahasiswa Planologi yang meneliti tentang konsep wisata Menjual tanpa membangun sudah mencoba mengembangkannya secara aplikatif dalam bentuk program paket wisata yang disebut paket wisata eko-kultur di wilayah Tumpang pada tahun 2006 !
Pengembangan wisata ekokultur ini sangat menguntungkan dari berbagai aspek. Dari aspek fisik, pengembangan wisata ini tidak memerlukan investasi pembangunan fisik permanen seperti bangunan, jalan, jaringan utilitas dan sejenisnya karena yang dibutuhkan hanyalah tempat yang representatif dan aktivitas yang unik. Dari aspek sosial pengembangan wisata ini tidak bertentangan/menimbulkan konflik sosial dengan budaya masyarakat, melainkan justru mendukung kebudayaan setempat. Dari aspek ekonomi pengembangan wisata ini jelas membantu memberdayakan perekonomian masyarakat dengan meningkatnya pendapatan masyarakat, dan berperan sebagai katalis utama bagi pertumbuhan ekonomi wilayah setempat. Dari aspek lingkungan, selain membantu upaya konservasi lingkungan dengan tidak adanya pembangunan fisik, juga mencegah upaya destruktif masyarakat dalam merambah hutan seiring meningkatnya kesejahteraan masyarakat dari sektor pariwisata, bagaimana menurut anda ? jika tertarik untuk mendiskusikan konsep ini silakan hubungi Jurusan Planologi - ITN Malang.

Selasa, 25 Maret 2008

Komunitas Sukses

  
Charles Torrey dalam disertasinya yang diajukan kepada Universitas Heidelberg di Jerman tahun 1880 (Disertasinya berjudul “The Commercial – Theological Terms in The Koran” terbit di Leiden, 1892) bahwa kitab suci Al Qur’an sangat menarik bila dibandingkan dengan kitab suci agama lain. Karena, menurutnya, kitab suci tersebut menggunakan peristilahan profesional untuk menyatakan hal-hal yang paling dalam dari lubuk hati manusia. Beberapa kata dalam Al Qur’an dikutip Torrey yang mengindikasikan profesionalisme.

Sebagian pengamat Islam, mengambil pengamatan Torrey itu, untuk menunjukkan mengapa bangsa Barat lebih maju. Karena, antara lain, bangsa Barat telah mencurahkan perhatian yang sangat besar pada masalah-masalah profesionalisme. Sementara kaum muslim pada beberapa abad silam memberikan perhatian terlalu banyak pada kaum penguasa, serta kebijakan-kebijakan dan tindakan mereka, alias terlalu besar porsinya pada aspek politik dalam kehidupan bangsa-bangsa muslim.

William Cleveland, Profesor Sejarah di Universitas Simon Fraser, Canada, dalam disertasinya yaitu : “Islam Against the West : Shakib Arsalan and the Campaign for Islamic Nasionalism” menganalisis pemikiran Shakib Arsalan seorang penganjur Islam ideologis dengan bukunya “Limaza ta’-akhkhara al-muslimun wa taqaddama ghairuhum (Mengapa Kaum Muslim Mundur dan Selain Mereka Maju?)”. intinya, kemunduran itu terjadi, antara lain, adalah akibat kepentingan politik sesaat untuk mempertahankan kekuasaan, ambisi pribadi, mengambil tindakan atas nama agama padahal untuk kepentingan pribadi, yang akhirnya cenderung mengabaikan kepentingan umum yang lebih luas. Kelompok muslim menjatuhkan, menjelek-jelekkan, memojokkan, dan tindakan sejenisnya terhadap kelompok muslim lainnya. Akibatnya nasib kaum muslimin atau kepentingan bersama kaum muslimin terpinggirkan. Dalam pandangan, Dirjen Bimas Islam Departemen Agama, Prof.Dr. Nazaruddin Umar, bahwa umat Islam yang saling menjelekkan atau kelompok umat Islam memfitnah kelompok muslim lainnya akan menghambat atau bahkan membuat umat Islam mundur.

Telaah dari beberapa disertasi tersebut tampaknya masih ‘relevan’ dengan situasi dan kondisi bangsa kita dewasa ini. Karena itu, dengan memperhatikan dinamika dan perkembangan masyarakat kita dewasa ini, maka dalam Rakernas LDII 2007, salah satu hasilnya adalah mendorong tumbuhnya komunitas yang sukses atau successful community untuk merespon dan mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi bangsa ini. Ada 5 sukses yang ingin diwujudkan yaitu : pertama, sukses moral, warga LDII menjadi pribadi yang jujur, amanah, optimistik dan berbudi pekerti yang luhur, sekaligus nantinya dapat pula mendorong kea rah masyarakat yang jujur, amanah, dan berbudi pekerti yang luhur. Dengan kata lain, warga LDII memberikan contoh yang baik sebagai wahana utama dalam pembentukan moralitas yang berlaku di tengah-tengah masyarakat.

Kedua, sukses profesional. Warga LDII didorong mempunyai know how/skill yang mumpuni sekaligus menguasai ilmu pengetahuan, yang diharapkan mampu menjawab berbagai tantangan di masa depan.

Ketiga, sukses team building, warga LDII dapat bekerjasama dengan berbagai elemen masyarakat lainnya, selain tentunya juga mampu bekerja sama dengan sesama warga LDII sendiri. Karena diakui atau tidak, kompleksitas persoalan yang dihadapi bangsa ini tidaklah dapat diselesaikan hanya oleh sekelompok masyarakat saja, tapi harus juga melibatkan partisipasi dari berbagai elemen masyarakat lainnya, termasuk dengan aparatur pemerintahan baik di eksekutif, legislatif maupun yudikatif.

Aku-isme yang mengedepankan dirinya yang paling berjasa, paling bisa, seolah-olah tanpa dirinya tidak akan berhasil suatu pekerjaan, tentulah tidak mendapat tempat dalam konteks team building tersebut.

Keempat, sukse kepemimpinan. Dalam konteks ini, warga LDII menjadi pemimpin yang teladan, mulai dari tingkat keluarga, di lingkungan tempat tinggalnya, maupun dalam pergaulan masyarakat secara luas atau kepemimpinan dalam berbagai tingkatan di masyarakat. Pada tingkat masyarakat luas, harapannya, orientasi seorang pemimpin itu terkait langsung dengan kesejahteraan rakyatnya. Sedangkan pada tingkatan keluarga, sebagai pemimpin selain memberikan contoh keteladanan tapi juga mampu melayani kebutuhan keluarganya. Dalam konteks bangsa, kepemimpinan itu haruslah berorientasi pada pencapaian kesejahteraan orang banyak. Menurut sebagian cendekiawan muslim, ada sebuah adagium dalam Islam yaitu “Kebijakan dan tindakan seorang pemimpin haruslah terkait langsung kepada kesejahteraan rakyat yang dipimpin (tasharruf al-imam ala al-ra’iyyah manuthun bi al-mashalahah)”. Artinya, kesejahteraan masyarakat tidak akan tercapai, jika pemimpinnya tidak mewujudkan keadilan seluruh warga masyarakat, melainkan hanya untuk sebagian saja. Maka sukses kepemimpinan ini tidak hanya untuk warga LDII tapi juga diharapkan terwujud dalam masyarakat kita. Sukses kepemimpinan itu, dengan kata lain, LDII mendorong berkembangnya sikap kepemimpinan di berbagai lapisan masyarakat yang berwatak sebagai pelindung, pengayom, menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan, adil dan tidak kalah penting sebagai ‘pelayan’ bagi orang-orang yang dipimpinnya.

Kelima, adalah sukses kesejahteraan. Masyarakat yang sejahtera bukan hanya menyangkut kenyataan-kenyataan lahiriah dan angka statistic belaka, seperti kepemilikan rumah, mobil, dan sebagainya, tapi juga menyangkut kebebasan berorganisasi, kebebasan dan perlindungan dalam menjalankan ibadahnya, dan beberapa aspek kehidupan lainnya agar tercipta rasa keadilan. Ini sesuai dengan pandangan Islam, bahwa tujuan hidup perorangan adalah mencari kebahagiaan dunia dan akhirat yang dicapai melalui kerangka peribadatan kepada Alloh.

Kelima sukses tersebut bukan hanya ditujukan untuk warga LDII tapi harapannya juga terwujud di masyarakat dan bangsa Indonesia. Karena warga adalah bagian dari sebuah masyarakat, maka secara makro ia adalah mahluk sosial yang tidak berdiri sendiri. Artinya, kesuksesan itu tidak hanya menimpa warga LDII, tapi juga diupayakan tercipta di dalam masyarakat dan bangsa Indonesia. Apakah kelima sukses itu sekadar retorika? Mudah-mudahan tidak. Meskipun mungkin berat untuk mewujudkannya, tapi itu adalah konsekuensi dari visi dan misi LDII. Paling tidak, cukup berharga untuk direnungkan.


Oleh : H. Drs. Iskandar Siregar, MSi 
Sumber : www.ldii.or.id

Pasar Memaksa Manusia Jadi Individual

Manusia secara tidak sadar perlahan-lahan membentuk masyarakat yang konsumeris. Inilah yang membentuk masyarakat menjadi terkotak-kotak dalam kantong individualistik, “Apa yang bisa diharap dari masyarakat konsumeris?”. Sedangkan akibatnya adalah individualisme yang mengikis nilai-nilai sosial.

Pasar membuat orang terfragmentasi menjadi individu. Padahal di dalam karakter manusia sebagai makhluk sosial memerlukan komunikasi. Komunikasi yang terjalin dengan sendirinya melahirkan komitmen, lalu menjadi trust (kepercayaan). Inilah yang melahirlah bentuk makhluk sosial, yang akan memunculkan modal sosial.

meski pun masyarakat memiliki modal sosial namun masih memerlukan kecerdasan sosial, untuk meraih tujuan tiap individu dalam satu sistem sosial. Namun semuanya menjadi sia-sia ketika manusia hanya mementingkan diri sendiri. Sikap individualistik inilah yang melahirkan ketidakcerdasan sosial.

Bagaimana membangun kecerdasan sosial?
Syarat kecerdasan sosial adalah bila individu kenal diri, baik potensi maupun kelemahannya, atau sesuatu yang membuat dia tidak suka. Berarti selain potensi kita mengerti benar kelemahan dan emosi. Saya berpikir, sebuah system social yang baik adalah seperti tim bola, mereka menilai diri sendiri lalu menempati posisi masing-masing sesuai potensi mereka. Di sini perlu pelatih yang membimbing dan mengenali potensi.

Kita pernah punya modal sosial, tapi mengapa tak pernah memiliki kecerdasan sosial?
Untuk itulah kita perlu melakukan restorasi dan rekonstruksi kembali modal social kita. Tak perlu menyalahkan Orde Lama, Orde Baru, Orde saat ini. Karena kalau ribut mencari sebab kita akan berdebat terus tapi tak membangun. Manusia tak akan pernah bisa menyelesaikan pekerjaan dengan dendam.

Bagaimana merekonstruksi kembali?
Kenali diri, mulai dari yang kecil dari kita pribadi. Kenali potensi dan dinamika diri. Jadilah tuan dari emosi bukan duta emosi. Jadi semuanya bisa terkontrol. Allah tidak mungkin membuat manusia tidak sempurna, tapi manusia memiliki keterbatasan. Misalnya tidak bisa terbang tapi dengan potensi diri bisa membuat pesawat terbang.

Apakah ada jaminan sistem pendidikan yang bagus menciptakan kecerdasan sosial?
Di sinilah peran leadership, dalam sistem sosial yang sehat akan melahirkan leadership. Dia harus memiliki peran solidarity maker, dia bisa menciptakan kebersamaan di dalam para anggotanya. Selain itu seorang pemimpin harus sekaligus menjadi motivator.

Apakah sistem pendidikan kita tak melahirkan kecerdasan sosial?
Dulu sebenarnya sudah ada. Misalkan pelajaran bercerita, setelah guru bercerita bergantian murid bercerita ulang. Di sini ada proses mendengar dan didengarkan. Pelajaran ini membentuk watak manusia menjadi makhluk sosial. Pelajaran olah raga yang mementingkan permainan tim diajarkan. Sekarang ini pelajaran-pelajaran itu dikesampingkan. Inilah yang membentuk manusia menjadi individualistik.

Bagaimana dengan negara lain, apakah yang membuat mereka menjadi maju?
Di Cina dan India, kemajuan itu karena factor leadership. Dalam system social yang diperlukan adalah pemimpin transformasional, yang membimbing manusia dari jaman jahiliyah menjadi yang cerah, dari keadaan buruk menjadi baik. Dari kehilangan modal sosial menjadi memiliki modal sosial.

Bagaimana dengan dunia Islam?
Nabi Muhamad SAW adalah sosok pemimpin transformasional. Dia tak menetapkan target teknis, tapi mentransformasi manusia yang tak produktif menjadi produktif. Bila ini terjadi, dengan sendirinya target teknis teraih. Bedanya pemimpin sekarang menetukan target tapi tak pernah membangun manusianya.

Lalu bagaimana membangun leadership?
Memilih pemimpin tak bisa dengan cara menjiplak Negara maju. Harus disesuaikan dengan budaya. Dalam masyarakat yang tingkat pendidikannya rendah tak perlu pemilihan langsung. Tapi dalam masyarakat yang pendidikannya tinggi pemilihan langsung menjadi perlu. Nah di sinilah fungsi partai, membentuk kader pemimpin bangsa. Partai bukanlah kendaraan untuk menjadi pemimpin.

Oleh : Ir Prasetyo Soenaryo, MT, Ketua DPP LDII
Sumber : www.ldii.or.id

Islam Tak Cukup dengan Jenggot Panjang dan Surban

Jenggot panjang, memakai surban, dan celana di atas tumit itu bagus. Tapi hal-hal yang bersifat simbolik itu tidak cukup untuk dinilai bahwa dia telah mengamalkan ajaran Islam. Ulama terdahulu, seperti Ibnu Sina, Imam Al-Ghozali dan sejumlah tokoh Islam lain juga punya jenggot yang panjang dan juga pakai surban. Namun, sekali lagi, Islam tidak cukup hanya dengan jenggot dan surban saja.
KETUA Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siraj mengungkapkan hal tersebut saat menghadiri acara Maulid Akbar di Masjid At-Tin, di Kompleks Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. “Mengamalkan ajaran Islam tidak cukup hanya dengan memelihara jenggot hingga panjang, memakai surban, dan memakai celana dengan tinggi di atas tumit saja. Sebab, ajaran Islam cukup luas dan tidak bisa terwakilkan oleh sekedar simbol belaka,” paparnya.
Pernyataan Kang Said, demikian ia akrab disapa, itu merupakan tanggapan terhadap wacana kembali kepada madzhab Salafy yang dimunculkan sejumlah kelompok di Indonesia. Namun, ia menegaskan, penerapan madzhab Salafy tidak cukup hanya dengan pelaksanaan hal-hal yang simbolik. “Ulama terdahulu dan sejumlah tokoh Islam lain juga mempunyai jenggot yang panjang dan juga memakai surban. Namun, sekali lagi, Islam tidak cukup dengan jenggot dan surban saja,” tuturnya.
Orang yang sudah beriman saja, ujar Kang Said, masih belum cukup. Sebab, orang yang telah beriman harus disempurnakan dengan amal dan ibadah yang baik, serta perilaku yang terpuji. Keimanan masih harus ditopang dengan moral dan prilaku yang baik,” jelas doktor jebolan Universitas Umul Quro’ Mekkah, Arab Saudi, itu.

KESAN konservatif, seperti umumnya para kiai di Indonesia, tak tersirat pada diri Said Aqiel Sirad. Sikap ulama asal Palimanan, Cirebon, Jawa Barat, itu bisa dikatakan sangat moderat. Bahkan, ia cenderung kontroversial. Keberaniannya mempertanyakan kembali dasar-dasar penting yang telanjur baku dalam praktik kehidupan beragama umat Islam mengingatkan orang kepada apa yang pernah dilakukan pendahulunya, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dan Nurcholish Madjid.
Atas keberanian sikapnya yang "kelewat batas" itu, Said Aqiel pernah dikafirkan oleh 12 orang kiai. Ada pula yang melayangkan surat ke almamaternya –Universitas Ummul Qura’ – Mekkah, meminta agar mencabut gelar doktornya. "Jangankan gelar doktor, gelar haji pun ambillah. Enggak usah digelari haji juga enggak apa-apa," tukasnya menanggapi serangkaian tudingan "miring" atas dirinya itu.
Tudingan "miring" itu bermula dari sejumlah sikapnya yang dinilai nyeleneh. Misalnya, ia menjalin persahabatan yang begitu erat dengan tokoh-tokoh non-muslim, seperti Romo Mangunwijaya (almarhum), Romo Mudji Sutrisno, dan Romo Sandyawan Sumardi. Ia juga tercatat sebagai salah satu penasihat Angkatan Muda Kristen Republik Indonesia.
Lalu, minatnya terhadap masalah kebangsaan dan hak asasi manusia juga tercermin dari keberadaannya sebagai salah satu pendiri Gerakan Keadilan dan Persatuan Bangsa, bersama tokoh-tokoh seperti Siswono Yudohusodo dan Sarwono Kusumaatmadja. Selain itu, ia juga bergabung dalam Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Peristiwa Kerusuhan 12-14 Mei 1998.
Menurut Said Aqil, serangkaian sepak terjangnya itu bukan tanpa alasan. Ia hanya ingin menunjukkan tiga hal penting yang seharusnya menjadi dasar penghayatan agama oleh setiap orang: toleran, moderat, dan akomodatif. "Islam yang benar itu, ya, moderat, toleran, dan akomodatif," tandas kiai yang senantiasa berpenampilan sederhana itu.
Dibesarkan di lingkungan pesantren, ahli tasawuf ini asli Cirebon. Ayahnya, Kiai Aqil Siraj, adalah seorang ulama bersahaja yang memiliki pondok pesantren kecil di Desa Kempeg, Kecamatan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Pesantren itu kini dikelola oleh saudara-saudara K.H. Said Aqil Siraj dan menampung sekitar seribu murid.
Said Aqil menamatkan pendidikan Madrasah Ibtidaiyah (setingkat Sekolah Dasar) di kampung halamannya. Masa pendidikan pesantren setingkat sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas dihabiskannya di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Pada 1980, didampingi istrinya (Nurhayati), ia melanjutkan studi dengan beasiwa di Tanah Suci Mekkah, Arab Saudi. Hidup di perantauan dilaluinya hingga 1994, dengan oleh-oleh gelar doktor bidang Ushuluddin (ilmu perbandingan agama) dari Universitas Ummul Qura’ - Mekkah. Dan di Mekkah pula keempat buah hatinya lahir.
Meski dikenal sebagai intelektual yang kritis, Said Aqil ternyata mempunyai sense of humour yang lumayan tinggi. Suatu hari, ia bercerita tentang kekonyolan penyeragaman yang dilakukan Gubernur Jawa Tengah Soewardi di masa lalu melalui program kuningisasi menjelang dan selama Pemilihan Umum 1997. "Saat itu, jangankan trotoar serta pagar, bedug mesjid, bahkan hewan kurban yang hendak dipotong pada Idul Adha pun harus dicat kuning," tuturnya. "Itu ‘kan konyol," tambah kiai yang juga mengajar di Universitas Islam Malang dan Perguruan Tinggi Ilmu Quran, Jakarta, itu.
MENGENAI kualitas umat Islam secara umum yang harus diperjuangkannya, dalam suatu kesempatan KH Said Aqil Siraj mengatakan bahwa saat ini beberapa kalangan Islam di Indonesia memahami agama Islam dengan sangat ekstrim (tatharruf). Mereka sering mengklaim diri sebagai Islam yang kaffah (menyeluruh) tetapi sebenarnya tidak pernah kaffah.
Bahwa Islam bukan hanya akidah dan syariah seperti yang mereka katakan, tetapi juga menawarkan budaya, peradaban dan moderasi Islam. Nah inilah yang ditawarkan NU dan inilah yang harus kita angkat, katanya.
Menurut Kang Said, NU juga harus menjaga, mengawal dan menjadi tameng keutuhan negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) karena NU berjasa besar ikut membangun dan mendirikan negara ini. Kita harus bersyukur kepada leluhur kita di mana beliau-beliau pada Muktamar di Banjarmasin 1936 sepakat membangun darus salam (negara kesejahteraan) bukan negara Islam. Para ulama merekrut semua komponen yang ada, baik lintas agama, etnis, budaya dan seterusnya. Ini memperkuat sumpah pemuda satu bangasa satu nusa dan satu bahasa, katanya.
Sikap seperti itu, kata Kang Said, terbentuk karena NU tidak terlalu mementingkan simbol, tidak legal formal, tidak mementingkan hal-hal yang bersifat lahir semata. Lebih penting lagi adalah nilai dan substansi Islam itu sendiri.
Di sisi lain, memang orang-orang nasionalis pada zaman itu adalah bukan orang-orang universal, bukan nasionalis sekuler yang betul-betul tidak memasukkan faktor agama atau tidak menginginkan agama campur tangan dalam kehidupan bernegara. Mereka bukan orang-orang nasionalis sebagaimana yang ditulis Ernast Renan dalam Whats the Nation tahun 1980, sehingga waktu itu Soekarno, Agus Salim, Kahar Muzakkar, Kiai Wahab Hasbullah, Wahid Hasyim dan Moh Hatta bisa saling ketemu,” katanya.
 
Sumber : http://www.ldii.or.id , wawancara dengan Ketua PBNU, Prof. Dr. KH Said Aqil Siraj