Sabtu, 27 September 2008

Kesabaran sebagai Jalan Menuju Kemenangan

Di masa-masa sulit seperti ini seiring meningkatnya harga-harga barang, kelangkaan BBM, terbatasnya lapangan kerja, minimnya penghasilan masyarakat, bertambahnya konflik-konflik sosial dan tindak kriminalitas benar-benar telah menimbulkan banyak kekacauan dimana-mana. Hampir setiap hari di media massa rutin diberitakan terjadinya unjuk rasa, pertikaian politik, tawuran, penggusuran, aksi anarkisme berkedok agama, hingga keributan yang sering terjadi saat mengantri sembako, BLT (Bantuan langsung Tunai), bahkan saat pembagian zakat yang memakan korban baru-baru ini setidaknya telah memberikan gambaran bahwa masyarakat sudah tidak bisa bersikap sabar lagi dengan berbagai macam penderitaan yang mereka alami.

Bulan puasa yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk melatih sikap sabar (tahan uji) dan mengendalikan hawa nafsu ternyata hanya menjadi kegiatan ritual untuk menahan lapar dan haus belaka. Padahal poin penting yang dituntut dalam ibadah puasa ini selain menahan lapar dan haus juga kemampuan untuk mengendalikan pikiran dan tindakan kita. Tidak ada gunanya orang yang berpuasa jika ia mudah mencaci-maki, suka berdusta, menipu, bersikap kasar, menganiaya orang lain, bahkan memprovokasi atau menghasut agar terjadi konflik. Hal yang lebih ironis lagi jika itu dilakukan oleh sekelompok orang yang suka mengatasnamakan agama dalam melakukan aksi brutalnya seperti FPI yang rajin merazia tempat hiburan malam, miras, perjudian, bahkan sering terlibat tawuran dengan kelompok-kelompok lain yang dianggap berseberangan.

"Hormatilah orang-orang yang berpuasa….!!!" Begitulah slogan yang sering dilontarkan para alim ulama, tidak terkecuali kelompok-kelompok garis keras yang ngakunya Islam macam FPI sehingga menjadi dasar bagi mereka untuk menghajar siapapun yang dianggap menodai kesucian bulan puasa. Sikap kasar mereka seperti itu justru merusak citra Islam sebagai agama yang membawa nilai-nilai perdamaian dan akhlaqul karimah (moral prilaku yang mulia/santun), apalagi jika itu justru dilakukan di bulan puasa yang begitu mulia seperti saat ini. Jika memang berniat memuliakan agama, seharusnya mereka memberikan contoh sikap-sikap santun seorang muslim yaitu : berkata yang baik, toleran, ramah, dan bersikap bijak (tidak asal menuduh). Meski FPI dalam setiap aksinya selalu membawa atribut atau simbol-simbol Islam, tapi dalam kenyataannya sikap anarkis mereka tersebut telah membawa mereka keluar jauh dari nilai-nilai keislaman itu sendiri.

Seandainya sikap sabar itu dipraktikkan dengan sungguh-sungguh, bukan sekedar menjadi pemanis dalam khotbah dan ceramah-ceramah agama maka jelas lambat laun akan memancing simpati masyarakat luas di negara multikultur seperti Indonesia ini. Bukankah dahulu Nabi Muhammad telah mencontohkan ketika ia berdakwah dan mendapatkan hinaan dan penganiayaan dari kaum yang menentangnya di Mekah, beliau tidak membalasnya dengan reaksi keras malahan justru mendoakan kaum tersebut agar mendapat hidayah dan rahmat dari Allah. Kesabaran nabi Muhammad dalam berdakwah justru mampu merebut simpati dan kepercayaan para penentangnya, sehingga tidak heran jika Kota Mekah kemudian berhasil dikuasai dengan damai, tanpa kekerasan, dan tanpa makian karena mereka meski menentang Nabi Muhammad tetap sangat menghormati kebesaran jiwa utusan Allah tersebut. Nabi Muhammad tidak pernah dendam pada penduduk Mekah meski sebelumnya ia pernah diusir dari Kota Kelahirannya itu, padahal saat penaklukan Mekah tersebut beliau membawa ribuan tentara tapi tak ada satupun pedang yang terhunus ataupun tindakan provokatif yang dilakukan saat mereka memasuki Mekah.

Kesabaran janganlah diartikan sebagai sikap lemah, rendah diri, dan ketidakberdayaan, tapi jadikan kesabaran sebagai wujud keteguhan jiwa dalam mencapai suatu tujuan. Sikap sabar menunjukkan kematangan seseorang dalam bertindak, konsisten, tahan uji, tidak mudah dihasut/diprovokasi, serta menunjukkan kualitas keimanan seseorang. Percayalah jika kita selalu bersabar dalam menjalani kehidupan kita dengan konsisten, sungguh-sungguh, dan selalu berpikir positif (tidak berprasangka buruk), maka yakinlah bahwa pertolongan dan kemenangan akan segera tiba. Bukankah kesabaran seorang Nelson Mandela dan para pengikutnya untuk meruntuhkan rezim aparteheid Afrika Selatan dengan cara-cara damai dan bijak telah berbuah manis sehingga menimbulkan simpati dan dukungan dari seluruh masyarakat internasional untuk menghentikan penindasan kaum apartheid yang telah berlangsung puluhan tahun tersebut…? Itu adalah sebagian contoh bahwa kesabaran merupakan jalan yang terbaik untuk meraih kemenangan. Dan saat ini seluruh umat muslim sedunia yang sedang berpuasa sedang menunggu datangnya hari kemenangan yang mereka tunggu-tunggu selama ini setelah sebulan penuh bersabar menahan lapar, haus, dan mengendalikan hawa nafsu yaitu Hari raya Idul Fitri. Mari kita rayakan hari kemenangan tersebut dengan memperbanyak silaturrahim kepada para tetangga, sanak-famili, dan rekan-rekan kita.

SELAMAT HARI RAYA IDULFITRI 1429 HIJRIAH, MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN…

"TAQOBBALALLOHU MINNA WA MINKUM"

Kamis, 18 September 2008

Sebenarnya Indonesia Butuh Berapa Propinsi ???

Saat ini di Pangkalan Bun lagi ada perbincangan yang hangat terkait isu pemekaran wilayah-wilayah eks Kesultanan Kutaringin yang berencana melepaskan diri dari Propinsi Kalteng dan akan membentuk propinsi baru yang kabarnya meliputi 5 Kabupaten (Kotawaringin Barat, Kotawaringin Timur, Sukamara, Lamandau, dan Seruyan). Menurut obrolan yang beredar di warung-warung kopi, pangkalan ojek, instansi pemerintah, hingga para kerabat Kesultanan, wilayah propinsi yang akan dibentuk nanti bisa lebih unggul secara ekonomi dari propinsi Induk mengingat sumber daya ekonomi Kalteng sebagian besar berada di lima Kabupaten tersebut. Bayangkan saja, 2 Pelabuhan utama Kalteng yaitu Pelabuhan Sampit dan Kumai yang merupakan jalur bagi 95 % ekspor Kalteng ada di wilayah eks Kesultanan Kutaringin ini. Perkebunan Besar Sawit (PBS) berskala nasional juga ada disini, belum lagi dihitung dengan perusahaan industri perkayuan, pertambangan, dan lainnya. Obyek-obyek wisata utama Kalteng juga hampir seluruhnya ada di Wilayah eks Kesultanan Kutaringin ini.

Asal mula berkembangnya upaya pemekaran daerah ini dipicu oleh ketidakpuasan Bupati Kotawaringin Barat terhadap kebijakan Gubernur yang menetapkan Kota Palangkaraya sebagai pintu gerbang wisata Kalteng. Padahal tujuan utama wisata Kalteng sendiri ada di Pangkalan Bun (Ibukota Kabupaten Kotawaringin Barat) yang berjarak 10-12 jam perjalanan darat dari Palangkaraya. Dengan alasan pemerataan dampak ekonomi wisata, maka diskenariokan bahwa wisatawan yang datang dari Palangka Raya (setelah mendarat di Bandara Tjilik Riwut) sebelum menuju Pangkalan Bun (yang merupakan tujuan utama wisata) akan disinggahkan di beberapa tempat wisata di Jalur poros antara Palangka Raya menuju Pangkalan Bun.

Sementara Bupati Kobar (Kotawaringin Barat) malah berkeinginan agar Bandara Iskandar di Pangkalan Bun diperluas dan dirombak agar bisa didarati pesawat-pesawat berbadan lebar, sehingga lebih efisien dan memudahkan para wisatawan yang hendak datang langsung ke obyek utama wisata di Pangkalan Bun tanpa harus melewati Kota Palangkaraya terlebih dulu. Tentu saja keinginan Bupati ini ditolak oleh Gubernur karena akan berdampak pada kesenjangan ekonomi daerah antara wilayah barat dan timur Kalteng. Akhirnya perbedaan kepentingan ini lalu memunculkan wacana pemekaran propinsi baru di Kalteng. Hal ini bisa jadi menjadi kabar gembira bagi para birokrat dan elit politik lokal karena membuka kesempatan mereka untuk memperebutkan posisi-posisi penting di pemerintahan propinsi baru nanti.

Jika pemekaran wilayah baru dianggap menguntungkan bagi orang-orang di daerah, lain halnya bagi pemerintah pusat yang mana adanya pemekaran malah semakin membebani anggaran pusat. Tidak hanya terbebani oleh mahalnya membangun fasilitas perkantoran baru, tapi juga karena bertambahnya biaya pilkada-pilkada baru dan biaya sosial-politik yang ditimbulkannya seperti ancaman konflik pilkada seperti yang dialami oleh ternate, tuban, dan beberapa tempat lainnya. Jadi sebaiknya kebijakan apakah yang perlu dijalankan pemerintah untuk menyiasati permasalahan ini agar tidak menimbulkan masalah baru di kemudian hari. Tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar daerah yang dimekarkan justru anggarannya semakin bergantung pada pemerintah pusat melalui Dana Alokasi Umum (DAU) maupun Dana Alokasi Khusus (DAK).

Di Indonesia saat ini sudah terdapat sekitar 34 propinsi (terbaru adalah propinsi Sulawesi Barat) dan sejauh ini belum pernah ada evaluasi menyeluruh terhadap kinerja pengelolaan dan pembangunan pada masing-masing daerah pasca dimekarkan. Pemerintah pusat sebaiknya bekerjasama dengan media dan lembaga-lembaga independen untuk mengkaji kelayakan dan keefektifan pemerintahan propinsi yang telah dimekarkan dalam memenuhi standar pelayanan publik, kelengkapan infrastruktur yang dimiliki, dan tingkat kemandirian dalam penyediaan anggaran. Idealnya evaluasi dilakukan setiap lima tahun sekali dan jika masih ada daerah pemekaran yang belum mandiri, masih terbelakang, atau malah lebih buruk dari kondisi sebelumnya, maka sebaiknya daerah tersebut dikembalikan ke wilayah induknya. Dengan demikian jika hal ini diterapkan akan mendorong daerah-daerah yang dimekarkan tersebut berpacu untuk memberdayakan potensi yang dimilikinya agar tak terus-menerus bergantung pada pemerintah pusat. Selain itu setidaknya hal itu akan membuat daerah lain yang ingin dimekarkan agar berhitung dulu dengan cermat untuk mengukur potensi dan kemampuan yang dimilikinya sebelum pisah dengan wilayah induk.

Pemekaran yang saat ini perlu diupayakan adalah pemekaran pusat-pusat perekonomian dengan penyediaan infrastruktur dan fasilitas pelayanan publik yang merata, jadi wacana pemekaran bukan hanya terkonsentrasi pada pemekaran wilayah administratif saja. Saat ini sepanjang pengetahuan saya di Kalimantan ada begitu banyak wilayah-wilayah baru hasil pemekaran, tapi setelah bertahun-tahun dimekarkan hingga berganti Kepala Daerah berikutnya, kondisi infrastruktur dan fasilitas pelayanan publik masih saja memprihatinkan. Kondisi jalan-jalan masih banyak yang rusak, listrik masih sering padam, dan pelayanan kesehatan yang belum merata jangkauannnya. Dengan demikian pemekaran wilayah sama sekali bukan solusi ataupun jaminan akan adanya perbaikan dan pemerataan pembangunan bagi wilayah tersebut. Pemerintah pusat pun harusnya tanggap bahwa dengan adanya tuntutan pemekaran wilayah di beberapa daerah khususnya di Kalteng sebenarnya yang diminta adalah adanya peningkatan alokasi anggaran pembangunan yang adil agar tidak ada daerah yang merasa dianaktirikan atau merasa direndahkan.


 

Senin, 18 Agustus 2008

Misi ini (Harus) Possible… !!!

Sekembalinya saya ke Malang dari Pangkalan Bun awal juli lalu, seperti yang sudah saya tulis pada catatan saya di bulan lalu memang banyak kesibukan yang saya kerjakan hingga akhir juli. Pada pertengahan Juli salah satu rekan saya di Tim RTBL ini yaitu Ikul, berangkat lagi ke Pangkalan Bun untuk bekerja di perusahaan Konsultan lokal. Karena pemilik perusahaan juga orang yang punya proyek di RTBL ini maka ia juga meminta Ikul untuk mengurus persiapan paparan dan konsultasi Laporan FA (Fakta-Analisa) ke dinas-dinas mengingat sesuai jadwal seharusnya pada bulan Juli itu sudah harus dilaksanakan Paparan dan konsultasi Laporan FA di depan tim teknis PU. Tertundanya pelaksanaan presentasi tersebut gara-gara terjadi tarik-ulur yang berbelit-belit antara pemilik proyek dengan Tim Leader Kami. Proses persiapan presentasi ini ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan, ternyata banyak berkas yang harus disiapkan (entah mengapa birokrasi di pemda suka sekali membuat rumit perkara yang harusnya bisa dibuat praktis itu), akhirnya Ikul meminta seluruh anggota tim kami datang ke Pangkalan Bun untuk membantu persiapan paparan FA tersebut apalagi pelaksanaan paparannya menurut rencana diperkirakan tanggal 12 Agustus ini dan akan dihadiri Bupati. Tapi berhubung 2 rekan kami yang lainnya sudah terlanjur bekerja di Konsultan lain, mereka terpaksa tak bisa datang ke Pangkalan Bun meski mereka mau membantu melobi Dosen kami di Malang untuk menjadi penyajinya. Jadi tak ada pilihan lain, maka saya harus berangkat sendiri menyusul Ikul di Pangkalan Bun awal Agustus ini.

Sebelum saya berangkat, bersama Ari (salah satu yang berhalangan ke Pangkalan Bun) kami menemui dulu Pak Tomo (Dosen yang menjadi tenaga Ahli tim RTBL kami) untuk bersedia menjadi Penyaji materi Paparan FA kami. Syukurlah hanya dalam semalam kami berhasil melobi Pak Tomo, meski dengan syarat kami harus konfirmasi dulu dengan Pak Arif (Dosen kami yang pernah dilobi Tim Leader RTBL untuk menjadi tenaga ahli juga). Beberapa hari kemudian Tgl 2 Agustus saya berusaha mengontak Pak Arif untuk membicarakan masalah ini, kemudian beliau mengijinkan kami menemuinya di rumah pada malam hari. Tapi sayangnya saat itu Ari sedang berhalangan jadi dia minta besoknya saja mendatangi beliau. Akhirnya saya terpaksa meminta maaf pada Pak Arif karena batal ke rumah beliau. Esoknya tanggal 3 Agustus saya menghubungi Ari apakah ada waktu untuk ke Pak Arif saat itu. Karena sms tak dijawab maka saya pun langsung datang ke tempat Ari ternyata dia ada waktu asal sore itu juga ke rumah Pak Arif, tapi setelah menghubungi pak Arif ternyata beliau hanya ada waktu malam hari saja. Terpaksa pada minggu malam saya datang sendiri ke tempat Pak Arif (tak bisa tidak karena besoknya saya harus terbang ke Pangkalan Bun). Akhirnya pada pembicaraan singkat malam itu, beliau ternyata masih banyak kesibukan di awal Agustus ini sehingga tak bisa terlibat sebagai tenaga ahli maupun penyaji materi paparan tersebut. Jadi alternatif terakhir yaitu Pak Tomo sebagai penyaji materi paparan kami, dan saya mempercayakan kordinasinya pada Ari sekaligus menjelaskan materi pada beliau karena saya sudah menyerahkan seluruh file laporan FA tersebut ke Ari.

Keesokan harinya (4 Agustus) ketika berangkat Ke Pangkalan Bun lewat Palangkaraya saya masih menyangka bahwa Ikul masih di Pangkalan Bun. Tapi alangkah terkejutnya saya ketika menghubungi dia ternyata dia sekarang ada di Samarinda dan saya diminta meneruskan pekerjaannya di Pangkalan Bun. Saat itu saya benar-benar bingung, campur kesal karena sebelumnya dia sama sekali tak pernah menceritakan rencananya tersebut. Padahal saat di Malang sekembalinya dari Pangkalan Bun awal juli lalu, bahkan dia mengaku tak punya keinginan kerja di luar jawa karena dia tak ingin jauh dari orangtuanya apalagi kondisi adiknya saat itu lagi sakit-sakitan. Sesampainya di Pangkalan Bun saya lalu menanyakan penyebab Ikul tiba-tiba pergi ke Samarinda. Menurut Bos konsultan kami dia sedang mengurus persiapan kuliah S2 nya sehingga ia mencari bahan literatur untuk rencana penelitian S2nya di samarinda. Tiba-tiba saya teringat lagi pada awal juli lalu memang ia pernah bercerita tentang lowongan beasiswa S2 di koran, tapi saya nggak begitu yakin jika itu penyebabnya karena ketika saya konfirmasi ke Ikul, dia jawaban yang dia berikan tampak bertele-tele seperti ada rahasia yang ia sembunyikan. Bahkan ketika saya tanyakan ke teman-teman lainnya di Malang lewat telpon, ternyata mereka bahkan tak tahu kalo ikul di Samarinda.

Pada awalnya sempat kaget juga karena ternyata di Pangkalan Bun mulai tanggal 5 Agustus, saya harus bekerja sendiri mengurus persiapan acara paparan dan konsultasi ini, mulai dari membuat jadwal rincian acara, membuat dan menyebar surat undangan, membuat susunan kepanitiaan, membuat booklet panduan paparan, mengurus spanduk, mengurus peminjaman ruangan, kordinasi dengan protokoler pemda, bahkan membuat materi sambutan Bupati. Maklum begitu banyak PR yang ditinggalkan Ikul karena dia sendiri selama 2 minggu sebelumnya sibuk kordinasi dengan Dinas PU dan Bappeda hanya untuk menentukan jadwal dan mencari tempat yang sesuai. Misi ini benar-benar sangat mepet karena tanggal 9 agustus persiapannya sudah harus selesai karena tanggal 10 adalah minggu jadi semua instansi pasti tutup. Tapi meski terkesan mustahil, saya tetap berusaha mengerjakannya meski hanya tinggal saya sendiri dari 5 anggota Tim RTBL yang bekerja di Pangkalan Bun.

Kesulitan pertama yang saya hadapi adalah printer yang sering macet dan nggak keluar warnanya, padahal saat itu saya butuh untuk ngeprint berkas-berkas yang diminta orang-orang dinas. Waktu saya banyak terbuang hanya untuk memperbaiki dan memastikan printer tersebut berfungsi normal. Masalah lainnya adalah lsitrik yang sering padam, dan sulitnya mengirim email di warnet setempat (loadingnya sangat lambat). Masalah yang lebih fatal lagi tenyata Pak Tomo belum bisa memastikan datang karena beliau ternyata banyak kesibukan di kampus. Saya sempat kecewa pada Ari karena ternyata ia baru menemui Pak Tomo pada sabtu malam (tanggal 9 agustus), dan bahkan ia belum memberikan materi FA yang sudah saya kopikan ke Pak Tomo. Saat itu saya benar-benar dibuat pusing, rasanya ingin marah tapi saya belum tahu kepada siapa saya pantas marah. Jadinya saya hanya memarahi diri sendiri yang baru sadar ternyata saat di Malang kenapa saya tidak menyerahkan saja sendiri materi laporan FA itu ke Pak Tomo sekaligus memastikan kesediaan beliau untuk datang tanggal 12 Agustus, bodohnya saya malah menitipkan file laporan FA itu ke Ari padahal saya tahu dia lagi sibuk ngurus kerjaan di tempat Konsultan yang baru (tentu saja laporan itu tak akan sempat ia berikan ke Pak Tomo).

Malam itu (9 Agustus) saya dan Ari tak henti-henti kordinasi untuk memikirkan cara bagaimana Pak Tomo bisa datang ke Pangkalan Bun paling lambat 11 Agustus, karena esok paginya paparan sudah harus mulai. Bayangkan saja tidak sampai dua hari kami sudah harus bisa mendatangkan beliau segera, padahal beliau saat itu benar-benar sibuk dan sama sekali tidak tahu materi laporan kami (benar-benar Mission Impossible). Apalagi karakter beliau yang sangat idealis dan punya reputasi sebagai Dosen killer di kampus benar-benar susah untuk diyakinkan. Bahkan bos kamipun ikutan menelpon beliau berkali-kali. Bagaimanapun beliau wajib hadir sebagai penyaji karena acara paparan ini akan dihadiri pejabat-pejabat penting termasuk Tim teknis PU Jakarta, jadi tidak mungkin kami "anak-anak kemarin sore" yang harus presentasi di depan mereka.

Malam itu Pak Tomo benar-benar membuat kami penasaran, dia baru mengambil keputusan besok pagi dan dia juga menuntut penjelasan kami tentang permasalahan yang terjadi dengan Stevant (Tim Leader kami sebelumnya). Keesokan paginya syukur ternyata beliau bersedia, dan permasalahan selanjutnya adalah menyiapkan akomodasi untuk beliau dan Ari untuk datang bersama. Ke Pangkalan Bun sesegera mungkin. Berbagai skenario penerbangan pun disusun, dan diputuskan bahwa penerbangan yang diambil yaitu melalui Surabaya-Jakarta, dan Jakarta Pangkalan Bun. Akhirnya mulailah pagi itu kami berburu tiket, Ari mencari tiket Surabaya - Jakarta, dan saya mencari tiket Jakarta-Pangkalan Bun. Sukurlah kami bisa mendapatkan tiket tersebut siang itu juga untuk keberangkatan besok pagi!!!. Bayangkan karena pesawat berangkat dari Surabaya jam 06.00 wib tgl 11, mereka berdua harus berangkat dari Malang pukul 03.00 dinihari.

Siangnya mereka berdua sampai di Pangkalan Bun dalam keadaan lelah (kami merasa berdosa juga mendatangkan Pak Tomo dengan cara mendadak seperti ini, tidak manusiawi bagi orang setua beliau). Kemudian beliau kami istirahatkan dulu di hotel, sementara Ari kami "culik" sementara untuk ngerjain materi powerpoint di Kantor kami. Malamnya sekitar jam 22.00 wib kami ngumpul di hotel untuk melakukan simulasi paparan besok sekaligus menjelaskan materi kepada beliau hingga 2 jam. Bayangkan pagi-pagi besoknya kami masih sibuk membuat materi powerpoint (Ari pun kewalahan hingga jam 5 subuh dia langsung tertidur dan teler berat karena 2 hari ini belum tidur sama sekali) padahal jam 8 pagi kami sudah harus presentasi, maka saya pun langsung melanjutkan pengerjaan materi powerpoint yang dikerjain Ari sampai final. Habis itu saya sibuk membangunkan Ari yang sudah terkapar kecapekan, karena dia udah sulit dibangunkan terpaksa saya sendiri menyusul Pak Tomo dan bos kami ke tempat kegiatan Paparan (Bappeda). Sukurlah kemudian jam 10 Ari bisa nyusul ke Bappeda (meski telat) dan Acara Paparan dan Konsultasi bisa berlangsung lancar. Tapi ada satu hal yang membuat kami sangat jengkel, ternyata Laporan FA ukuran A3 yang sudah kami cetak sebanyak 8 jilidan dan kami serahkan ke PU melalui Tim Leader Kami yang lama (Stevan) pada awal juni lalu, belum juga sampai ke Dinas PU Propinsi (ada kemungkinan unsur sabotase disitu). Akibatnya Tim teknis PU tersebut menyangka kami belum menyelesaikan laporan FA tersebut (entah laporan sebanyak itu dikemanakan oleh Stevan).

Tapi untungnya tim teknis PU tersebut bisa menerima penjelasan kami, sekarang target selanjutnya adalah menyelesaikan gambar-gambar desain rencana 3D dan animasinya yang mereka minta selesai dalam sebulan. Dengan mempertimbangkan sisa personil yang ada (tinggal 2 orang) agaknya ini akan menjadi mision impossible selanjutnya bagi kami

Rabu, 30 Juli 2008

Tiga Minggu yang Menguji Tekadku

Tiga minggu terakhir ini adalah masa-masa yang cukup menguras tenaga, dan pikiran saya. Bagaimana nggak selain saya harus memenuhi tanggung jawab saya untuk menyelesaikan seluruh peta-peta laporan draft final (jumlahnya ada sekitar 56 peta), ditambah laporan draft final Bab 1 (aslinya bab ini bukan jatah saya) ,3, dan 6, ditambah bahan presentasi Laporan Antara RTBL (Interim Report), dan lagi saya harus berusaha meyakinkan dan memotivasi rekan-rekan satu Tim RTBL agar mau kembali bekerja usai kembali dari Kota Pangkalan Bun (maklum mereka ogah-ogahan karena mereka nuntut kontrak baru padahal keputusan untuk itu masih belum jelas karena masih terjadi tarik-ulur antara pemilik proyek dengan tim leader kami). Memang masa-masa itu tergolong singkat tapi cukup melelahkan karena semua itu harus dikerjakan tepat waktu demi kelancaran proyek RTBL ini, dan yang terpenting adalah untuk menjaga reputasi dan kredibilitas Tim kami (untuk itulah saya rela berkorban dan harus menguatkan tekad).








(foto saat di Kediaman Pangeran Muasjidin Syah dari Kesultanan Kutaringin Pangkalan Bun, foto kiri : ikul-stevan, dan foto kanan : opie- saya - ari)

Hal yang paling sulit diantara semua tugas tersebut adalah berusaha meyakinkan teman-teman agar kembali mengerjakan tanggung jawab masing-masing. Perlu diketahui bahwa rekan kerja saya dalam tim RTBL ini yaitu Ikul (Plano ITN ’02) yang juga teman seangkatan, Ari (Plano ITN ’03), dan Opie (Arsitek ITN ’00), sementara tim leader kami adalah Stevan (Plano ITN ’00). Sebelum kami kembali ke Malang dari Pangkalan Bun, Kalteng sudah diatur pembagian tugasnya yaitu saya bagian bab 3,6 dan petanya, ikul bagian bab 4 (bagian yang paling rumit karena tingkat kedetailannya) dan petanya, serta Ari dan Opie untuk gambar-gambar desain 3D dan animasinya (bagian yang paling melelahkan karena butuh waktu lama dan kreativitas tinggi). Adapun tim leader kami bertugas mengordinasikan tim kami agar bekerja tepat waktu (meski kemudian perintahnya tak dihiraukan lagi ama teman-teman gara-gara terlalu banyak mengumbar janji). Teman-teman bahkan nyaris pesimis dengan kelanjutan pekerjaan RTBL, apalagi sebulan sebelumnya kami sudah mengalami stagnasi yang berkepanjangan gara-gara terjadi kesalahpahaman antara tim leader kami dengan pemilik proyek terkait transparansi penggunaan anggaran dan kelengkapan muatan materi produk RTBL, sehingga anggarannya sulit dicairkan (saat itu tim leader kami kehabisan duit untuk membiayai pekerjaan ini karena anggarannya diblokir pemilik proyek, maka jadinya kami dipulangkan segera ke Kota Malang, meski sebenarnya pekerjaan RTBL belum tuntas sepenuhnya terutama gambar-gambar 3D).

Setelah diwarnai perdebatan, tim leader kami meminta putus kontrak dengan pemilik proyek dan meminta ganti rugi karena gara-gara anggarannya dibekukan ia terpaksa berutang ke bank untuk membiayai pekerjaan akhir RTBL ini. Pemilik proyek menyetujuinya dan ia mau mengeluarkan uang ganti-rugi asalkan ia sudah menerima laporan draft final lengkap dengan petanya. Akhirnya ganti kami yang ditekan oleh tim leader kami sambil sedikit mengancam kami jika ia tidak segera menerima laporan itu minggu ini, ia akan membawa permasalahan ini ke pengadilan karena menurutnya minggu ini utangnya sudah jatuh tempo. Akhirnya saya berusaha memotivasi teman-teman sambil mengingatkan akan banyaknya waktu yang terbuang sia-sia bulan ini. Padahal paling tidak bulan september nanti kami sudah harus menyelesaikan semua pekerjaan RTBL, termasuk gambar-gambar desain 3D dan animasinya. Karena teman-teman terlanjur pesimis, jadinya saya mesti merelakan diri saya untuk bekerja penuh selama tiga minggu terakhir untuk menyelesaikan semua deadline pekerjaan itu (kecuali gambar-gambar desain 3Dnya karena itu tidak dianggap prioritas oleh mereka).

Tapi sukurlah sikap optimis dan keyakinan saya tersebut cukup membuahkan hasil karena meski terpaksa kerja sendiri tapi deadline itu bisa dipenuhi (meski tak sempurna 100%, tapi yang penting mereka bisa menerima), sehingga hari ini permasalahan tersebut telah diselesaikan dengan baik tanpa ada pihak yang merasa dirugikan karena saya sudah mengirim CD penting yang memuat produk-produk RTBL tersebut kepada mereka (sebelumnya saya menahan data itu beberapa hari gara-gara terjadi ketidakjelasan komitmen diantara mereka). Saya berharap kesalahpahaman tersebut tidak berulang lagi di kemudian hari. Sikap ikhlas, jujur, rela berkorban, dan ketulusan hati adalah kunci untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

Sekarang tantangan kami adalah bagaimana menyelesaikan sisa pekerjaan RTBL terutama yang menyangkut gambar-gambar 3D dan animasinya dalam sebulan ke depan. Sebelumnya kami harus menyatukan kembali semua anggota tim yang saat ini sudah tersebar di beberapa tempat yang berbeda (maklum mereka terlanjur menerima tawaran kerja di tempat lain setelah dibuat frustasi karena menganggur selama sebulan terakhir ini tanpa ada kejelasan kelanjutan pekerjaan ini, sehingga 3 dari 5 anggota tim kami sudah bekerja di tempat lain!!!). Dengan sisa personil yang ada tampaknya kami memang harus berjuang keras untuk melanjutkan pekerjaan RTBL ini sampai akhir (semoga Allah senantiasa berpihak dan menolong kami).

Jumat, 27 Juni 2008

Merenungi Arti Hidup Kita di Dunia

Sebagai seorang manusia yang diberi kesempatan oleh tuhan untuk bisa hidup di dunia ini, seharusnya kita harus memahami apa sebenarnya yang menjadi tugas dan tanggung-jawab kita di dunia ini. Sejak di dalam kandungan, manusia telah mengucap janji untuk tunduk pada kekuasaan tuhan. Ini sudah menjadi hukum yang tidak bisa ditawar-tawar lagi sejak Adam diciptakan. Oleh karena itu Tuhan Kita, Allah telah menganugerahi setiap manusia dengan Akal. Akal adalah perangkat utama yang dimiliki manusia agar bisa berpikir waras, mampu membedakan antara kebenaran dengan kesesatan, kebaikan dan kejahatan dan mampu survive menghadapi berbagai macam ujian dan tantangan.

Akan tetapi sayangnya setelah terlahir ke dunia ini, banyak manusia yang sudah lupa akan kewajibannya. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya benteng keimanan yang dimiliki sekaligus juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dimana ia dilahirkan. Faktor kurangnya pendidikan dan perhatian dari orangtua dan orang-orang terdekat merupakan penyebab utama.

Pendidikan formal yang diperoleh sejak kecil ternyata hanya melatih orang menjadi serba tahu dengan terus mengasah otaknya, tapi tidak memiliki rasa karena memudarnya nurani yang dimiliki. Akibatnya pendidikan formal hanya menghasilkan orang-orang yang pintar, tetapi kurang memiliki hati nurani sehingga mudah disesatkan.

Pendidikan formal seperti itu haruslah diimbangi dengan pendidikan non-formal seperti pendidikan spiritual. Pendidikan spiritual berguna untuk menentramkan batin kita, mengasah nurani, dan mampu membuat kita menjadi lebih bijaksana dan senantiasa optimis setiap saat. Pendidikan spiritual merupakan obat hati yang membuat kita selalu berpikiran positif dan fokus dalam menjalani hidup.

Saat ini seiring bertambah merosotnya moralitas masyarakat akibat pengaruh-pengaruh negatif gaya hidup yang dipertontonkan setiap hari oleh media kita yang dipenuhi cerita gosip, fitnah, kekerasan, takhayul, seksualitas dan sebagainya benar-benar menjadi ujian bagi kita untuk menjaga kematangan emosi jiwa dan spiritual. Jika anda tidak punya atau kurang memiliki kematangan spiritual, maka kemungkinan besar akan mudah terombang-ambing tanpa arah, bahkan bisa menjadi gila.

Ditengah-tengah situasi kacau-balau, dan penuh anomali yang sulit diduga ini, kita memang harus pandai-pandai menempatkan diri, mampu menguasai diri, perasaan dan pikiran kita. Jika tidak maka dipastikan kita akan mudah terprovokasi untuk memuaskan nafsu menjadi manusia-manusia serakah yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Kita memang harus memilih apakah kita akan menghabiskan hidup kita di dunia ini dengan menjadi budak-budak nafsu atau mengikuti kata hati dan nurani kita untuk menjaga kualitas spiritual kita sebagai hamba-hamba tuhan yang beriman.

PERTANYAAN BESAR YANG HARUS ANDA JAWAB DI DALAM HATI-NURANI ANDA SAAT INI ADALAH..... SUDAH BERADA PADA POSISI MANAKAH ANDA SAAT INI ???